ACCOUNTING FOR (IN)VISIBILITIES: RESISTANCE, GENDER AND CONTROL

ACCOUNTING FOR (IN)VISIBILITIES: RESISTANCE, GENDER AND CONTROL

Abstract

This paper explores the themes of resistance, gender and control as both visible and invisible constructs in accountancy. Through the use of oral history as method, the experiences of three ethnic women accountants are documented. The central concern of this paper is to provide empirical material relevant to the study of women in accountancy, and in particular to give visibility to the experience of minority ethnic women accountants using an oral history approach. We use the term ‘ethnic women’ to indicate women from minority ethnic communities inBritain. The three oral histories indicate the presence of various forms of resistance, gender and control which appear to operate through a variety of invisible and visible forms in the structured work and workplace of accountancy. This paper presents a number of snap shots in the lives of three ethnic women accountants who work in different accounting environments. These experiences unfold through the deliberate limited use of theoretical frameworks. Our intention here is to present these experiences as ‘raw’ and ‘uncut’ as we possibly can in order to allow the experiences to speak for themselves. Despite our presence as researchers and authors in this text being omnipresent, we hope that our intervention to structure and re-construct the narratives for the reader is kept to a minimum.

Keywords: Accounting, Control, Ethnicity, Gender, Identity, Invisibility, Oral History, Resistance, Visibility.

full download file: http://www.ziddu.com/download/15599288/accounting.pdf.html

Chronic disease – health report – glyconutrition

Chronic disease – health report – glyconutrition

This book is simple in its design. Glyconutrition is, I believe, one of the health technologies which is already impacting the health world. It has earned four Nobel Prizes in the last eight offered in the field of medicine, which is a powerful testimony in and of itself.

However, glyconutrition is already referred to as one of the top ten technologies which will change our world. That is the position of the prestigious M.I.T. referencing this field of “glycomics” (a commonly used scientific name), which is the field of glyconutrition (popularized name among scientists and laity alike).

Most people have never heard of glyconutrition. But, every day more and more people learn of its amazing impact upon the human body. The impact on chronic diseases is immense. Diseases ranging from the very dangerous diabetes, cancer, Aids and heart disease to rather low level annoyances such as rhinitis, hives, and gum disease have all been impacted by glyconutrition.

But, therein lies the problem. The claims made for glyconutrition seem too unbelievable. It’s become almost a sort of “magic pill” approach in the minds of many. But, of course, it is NOT a magic pill. Indeed, there is nothing magic about it. The reason it affects so many health conditions is due to the fact that it plays several key roles in health and nutrition.

Glyconutrition is the immune system modulator. In other words, it is responsible for adjusting and regulating the immune system “resources” of the body for carrying on their proper functions against varied and multiple threats to the body…simultaneously. This is an enormous task, surely, yet one which is performed constantly by our bodies …unless we are lacking in the necessary constituents, particularly the glyconutrional constituents.

download full pdf file:

http://www.ziddu.com/download/15599400/chronicdisease.pdf.html

global gender gap report 2009

Gender equality vs. women’s empowerment

The third distinguishing feature of the Global Gender Gap

Index is that it ranks countries according to their proximity

to gender equality rather than to women’s empowerment.

Our aim is to focus on whether the gap between women

and men in the chosen variables has declined, rather than

whether women are “winning” the “battle of the sexes”.

Hence, the Index rewards countries that reach the point

where outcomes for women equal those for men, but it

neither rewards nor penalizes cases in which women are

outperforming men in particular variables.

The four pillars

The Global Gender Gap Index examines the gap between

men and women in four fundamental categories: economic

participation and opportunity, educational attainment, political

empowerment and health and survival. Table 1 displays all four

of these subindexes and the 14 different indicators that

form part of them.

download full pdf file:

http://www.ziddu.com/download/15600827/globalgendergapreport2009.pdf.html

Link

SALAM SELAMAT TINGGAL

serabut jalanan menggeliat di tengah keramaian kota

dan awan hitam menangis tanpa sebab dan ibu

pertiwi telah lelah mengasuh gunung-gunung

menjerit dan laut pun berteriak

sesaat hening sunyi

diam

gelap gerhana selimuti semua yang fana

tanpa awal tanpa mula dan tak bersuara

seluruhnya hitam sedih

dan berkabung

antara sisa-sisa kehampaan alam maya

yang telah terbang entah kemana

hanya sebuah kesedihan yang tersisa

dari sebuah perpisahan tanpa pertemuan

atau seluruhnya masih terus

berkabung

Surabaya, November 1999

dwi davisia nurkholis

Link

Peranan yang Terikat pada Model Proses HPI

Ketika kerja di rancang-bangun ulang, organisasi-organisasi mengharuskan individu-individu untuk mengambil kewajiban-kewajiban dan tanggung-jawab tanggung-jawab yang lebih luas daripada yang dapat diterapkan oleh deskripsi kerja tradisional. Tren ini dapat mengirimkan munculnya tim-tim kerja panduan-sendiri, dimana semua anggotanya diharapkan untuk memenuhi semua tanggung jawab tim. Bukannya pekerjaan atau posisi, maka, sebuah penekanan yang lebih tepat hendaknya ditekankan pada peranan, dipahami untuk merujuk bagian-bagian yan dimainkan oleh orang-orang ketika mereka melakukan pekerjaan mereka. Sebagaimana peran para aktor dan aktris di dalam produksi teatrikal, begitu pula peranan yang ditanggung oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan peningkatan kinerja manusia. Continue reading

Link

Definisi Operasional PBL

1)      Pertama para siswa diberikan sebuah permasalahan

2)     Parasiswa membahas permasalahan dalam kelompok kecil tutorital [pengajaran tambahan] PBL. Kejelasan fakta-fakta dari kasus. Mereka mengidentifikasi apa permasalahannya. Ide-ide brainstorm[ilham] didasarkan pada pengetahuan utama. Mereka mengidentifikasi apa yang mereka perlu pelajari untuk mengatasi permasalahan, apa yang mereka tidak ketahui (isu-isu pembelajaran). Mereka melakukan pemikiran untuk mengatasi permasalahan. Mereka menentukan rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Continue reading

Serum Transthyretin

Serum Transthyretin

Transthyretin, known also as prealbumin or thyroxine-binding prealbumin, serves as a transport protein for thyroxine, and as a carier protein for RBP (Section 16.2.4). It has a longer half-life (i.e., 2d) (table 16.3) and a slightly larger body pool (0.010 g/kg body weight), compared to RBP, although the  sensitivities of these two serum proteins to protein deprivation and treatment are similar. Transthyretin has a high content of the amino acid tryptophan and a high proportion of essential to nonessential amino acids. Thus it can be used as an indicator of the availability of essential amino acids in the body (Spiekerman, 1993.). Continue reading

Link

HARTA WARISAN DALAM HUKUM ISLAM

 

  1. 1.      Pengertian Harta Warisan

Sebagaimana harta warisan dalam hukum Islam merupakan suatu permasalahan yang sangat unik sekali, dan ini adalah suatu harapan yang nantinya akan dialami oleh setiap manusia.

Adapun dalam hal ini agar untuk mendapatkan suatu gambaran yang jelas dan konkritnya di dalam hal membahas mengenai pengertian dari harta warisan tersebut, maka dengan adanya semacam ini perlu diperhatikan tentang kedudukan hukum waris di dalam hukum Islam. Memang hal ini amat penting dalam hukum Islam, kecuali hukum waris yang langsung menyangkut dalam harta benda yang tidak diberikan ketentuan-ketentuan yang pasti, maka hal emacam ini akan mudah menimbulkan suatu sengketa antara ahliwaris yang satu dengan ahliwaris yang lainnya.

Continue reading

obat-obatan dan kehamilan

Tinjauan

Kita telah membahas kelas-kelas tradisional utama dari obat-obatan psikoaktif: stimulan, depresan, dan halusionogen. Namun, terdapat obat-obatan penting yang memiliki cirri-ciri psikoaktif yang tidak dengan tepat masuk pada kategori-kategori dari bab-bab terdahulu. Di dalam bab ini kami mengulas beberapa diantaranya. Terlebih dulu kami membahas obat-obatan resep signifikan, termasuk pil-pil pengatur kehamilan dan steroid-steroid anabolik. Selanjutnya kami membahas sejumlah luas obat-obatan yang tidak membutuhkan resep untuk membelinya: obat-obatan yang dijual bebas. Umumnya obat-obatan ini mencakup analgesik (seperti aspirin), anti-histamin dan obat-obatan untuk alergi dan flu lainnya, pil-pil diet, obat bantu tidur, dan sejumlah ramuan herbal, hormon dan suplemen-suplemen diet.

Obat-obatan Resep Lainnya

Obat-obatan Pengatur Kehamilan

Pil pengatur kehamilan pertama kali tersedia pada awal tahun 1960an, dan sejak saat itu ”pil” ini telah memiliki dampak penting pada budaya kita. Mungkin karena tidak ada kecelakaan / kebetulan bahwa apa yang disebut dengan revolusi seksual pada akhir tahun 1960an yang bertepatan dengan penyebaran luas pil ini. Diperkirakan bahwa 17.5 juta wanita di Amerika Serikat menggunakan pil pengatur kehamilan, membuat pil ini sebagai bentuk kontrasepsi yang paling banyak digunakan (Julien, 1998). Continue reading

Kritisisme historikal dan interpertasi tentang Shakespeare

Kritisisme historikal dan interpertasi tentang Shakespeare

Meskipun dia menyatakan bahwa kritisisme historikal kadangkala telah menghilangkan “interpertasi-interpertasi eccentric”, Robert Ornstein mengklaim bahwa ini juga kadangkala mendorongnya dengan mensubtitusi standar-standar yang benar-benar unilateral untuk standar-standa tradisional tentang perseptivitas kritikal”. Yang paling penting diantara standar-standar “perseptivitas kritikal” ini adalah kriteria formal dari koherensi internal, pengertian bahwa puisi lengkap / utuh adalah konteks yang sebaiknya mengatur respon estetik kita pada setiap bagiannya. Pemahaman moral kita tentang drama, misalnya, adalah “sebuah pengalaman estetik yang bergantung pada kesan-kesan karakter, pemikiran dan tindakan yang diciptakan dengan segera,” dan kesan ini akan mengatasi / override bukti bertentangan apapun yang mungkin dikemukakan oleh scholarship / ilmu pengetahuan. Dalam pengertian formalis ini, Ornstein menawarkan sebuah interpretasi pada aksi-aksi Hamlet dalam adegan Closet yang secara mengejutkan berbeda dari pembacaannya Fredson Bowers. Continue reading