Sejarah singkat Imam Syafi’i (Bagian 2)

Kembali ke Mekkah Al Mukarramah

Setelah usia Imam Syafi’i rahimahullah 2 tahun, ia dibawa ibunya kembali ke Mekkah al Mukarramah, yaitu kampung halaman beliau, dan tinggal di Mekkah sampai usia 20 tahun, yakni sampai tahun 170 H. Dalam angka 20 ini terdapat perbedaan-perbedaan dalam catatan sejarah, ada yang mengatakan sampai usia 13 tahun, ada yang mengatakan sampai usia 14 tahun, ada yang mengatakan sampai usia 20 tahun dan ada yang mengatakan sampai usia 22 tahun. Tetapi penulis buku ini sesudah memperhatikan dari bermacam-macam segi, agak condong berpendapat bahwa Imam Syafi’i rahimahullah tinggal di Mekkah sampai usia 20 tahun dan sesudah itu pindah ke Madinah al Munawwarah. Perbedaan angka ini tidak prinsipil, yang terang beliau tinggal di Mekkah di waktu kecil dan setelah muda remaia pindah ke Madinah.

Selama beliau di Mekkah, Imam Syafi’i rahimahullah berkecimpung dalam menuntut ilmu pengetahuan, khusus yang bertalian dengan Agama Islam sesuai dengan kebiasaan anak-anak kaum Muslimin. Sebagai dimaklumi bahwa dalam seiarah pada abad I dan II tahun Hijrah, ummat Islam boleh dikatakan dalam masa, keemasan, sedang memuncak membubung tinggi. Agama Islam sudah tersiar luas, ke Barat sampai ke Marokko dan Spanyol, ke Timur sudah sampai ke Iran, ke Afganistan, ke India Selatan, ke Indonesia dan ke Tiongkok dan di Afrika sudah hampir pada seluruh daerah. Pada abad-abad itu yang berkuasa adalah Khalifah-khalifah Ar Rasyidin, Khalifah-khalifah Bani Ummayyah dan Khalifah-khalifah Bani ‘Abbas, yang terkenal bukan saja dalam keberanian, tetapi juga dalam memperkembangkan ilmu pengetahuan.

Dalam masa Khalifah-khalifah Harun ar Rasyid (170 – 193 H) dan al Makmun (L98 – 218 H) rerkenal sebagai masa yang memuncak tinggi kedudukan ilmu pengetahuan. Dalam Agama Islam yang sangat dipatuhi orang ketika itu, baik dalam Hadits-hadits Nabi maupun dalam al Quran, banyak sekali terdapat petunjuk-petunjuk yang menganjurkan dan mengerahkan rakyat supaya belajar segala macam ilmu pengetahuan, khususnya yang bertalian dengan Agama. Sesuai dengan ini maka Imam Syafi’i rahimahullah pada masa mudanya menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan. Markas-markas ilmu pengetahuan ketika itu adalah di Mekkah, di Madinah, di Kufah (Iraq), di Syam (Damsyik) dan di Mesir. Oleh karena itu seluruh pemuda mengidam-idamkan dapat tinggal di salah satu kota itu untuk berstudi, untuk mencari ilmu pengetahuan dari yang rendah sampai yang tinggi.

Baca lanjutannya: sejarah-singkat-imam-syafii-bagian-2